Najis Anjing : Cara Mensucikannya Sesuai Dalil Hadits Nabi

2 min read

Najis Anjing
0
()

Najis Anjing : Cara Mensucikannya Sesuai Dalil Hadits Nabi. – Bismillah Tawakkaltu ‘alallah, La haula wa la quwwata illa billah. Baiklah kali ini Dutadakwah akan menerangkan tentang Najis Anjing.

Najis Anjing : Cara Mensucikannya Sesuai Dalil Hadits Nabi

Najis Anjing adalah najis Mugholladzoh, yakni najis berat. Badah-badahan yang dijilat anjing itu tidak bisa suci kecuali dengan memenuhi persyaratan yang ditentukan. Dalam pada ini kami akan sampiakan beberapa keterangan ringkas terkait dengan najis anjing.

Mukadimah

السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بِسْمِ اللهِ الحَمْدُ للهِ أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلهَ إِلا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ رَسُوْلُ الله   اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ:  أَمَّا بَعْدُ

Puji dan Syukur senantiasa kita panjatka ke hadhirat Allah Ta’ala. Shalawat serta Salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Agung Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Pembaca yang kami kagumi semoga dirahmati Allah Aamiin. Selanjutnya mari kita simak hadits tentang najis anjing dan cara mensucikannya.

Najis Anjing

Dalam beberapa kiktab fiqih terutama dalam fiqih yang bermadzhab Syafi’i banyak diterangkan bahwa anjing adalah najis mugholladzoh. Arti dari najis mugholladzoh adalah najis berat. Memang mengenai Najisnya anjing ini terdapat ikhtilaf dalam pandangan ulama maadzhab. Dalam madzhab Syafi’i Najis tersebut terbagi dua yaitu Hukmiyah dan ‘Ainiyah. Dalam Madzhibul-arba’ah bab Thoharoh diterangkan sebgai berikut:

الشَّافِعِيَّةُ : عَرَفُوْا النَّجَاسَةَ الْحَقِيْقِيَّةَ بِأَنَّهَا الَّتِيْ لَهَا جَرْمٌ أَوْ طَعْمٌ أَوْلَوْنٌ أَوْ رِيْحٌ. وَهِيَ الْمُرَادُ بِالْعَيْنِيَّةِ عِنْدَهُمْ. وَالنَّجَاسَةُ الْحُكْمِيَّةُ بِأَنَّهَا الَّتِيْ لَا جَرْمَ لَهَا وَلَا طَعْمَ وَلَا لَوْنَ وَلَا رِيْحَ. كَبَوْلٍ جَفٍ وَلَمْ تُدْرَكْ لَهُ صِفَةٌ, فَإِنَّهُ نَجْسٌ نَجَاسَةٌ حُكْمِيَّةٌ

Artinya: Madzhab Asy-Syafi’i mendefinisikan najis hakiki sebagai sesuatu yang mengandung kotoran, atau berubah rasanya, atau warnanya, atau baunya. Itulah yang dimaksud dengan najis ain (najis ‘ainiyah) menurut mereka. Sedangkan najis hukmniyah adalah yang tidak ada kotorannya, tidak ada rasanya, tidak ada warna, dan tidak bau, seperti bekas air kencing yang sudah kering, dan tidak ada bentuknya. Itulah najis huktmiyah.

Mensucikan badah yang dijilat Anjing

Cara Mensucikan barang-barang yang dijilat anjing adalh harus dicuci sebanyak tujuh kali. Dan salah satunya harus memakai tanah dan jika tidak maka artinya itu sudah menyalahi aturan. Dalam perihal ini Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam beliau menegaskan dalam sabdanya:.

Baca Juga :  √ Mandi Wiladah, Hukum, Niat Serta Tata Caranya

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُهُورُ إنَاءِ أَحَدِكُمْ إذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَفِي لَفْظٍ لَهُ فَلْيُرِقْهُ وَلِلتِّرْمِذِيِّ  أُخْرَاهُنَّ أَوْ أُولَاهُنَّ

Artinya: Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sucinya tempat air seseorang diantara kamu jika dijilat anjing ialah dengan dicuci tujuh kali, yang pertamanya dicampur dengan debu tanah”. Dikeluarkan oleh Muslim. Dalam riwayat lain disebutkan: “Hendaklah ia membuang air itu.” Menurut riwayat Tirmidzi: “Yang terakhir atau yang pertama (dicampur dengan debu tanah).

Kucing tidak najis

Jika ada badah-badahan dijilat kucing maka badah tersebut tidak najis karena kucing bukan binatang najis. Kucing adalah binatang yang suka berkeliaran di sekitar kita. Namun meski tidak Najis tapi tetap penting mesti dicuci untuk menjaga kesehatan. Adapun dasar hokum bahwa kucing bukan hewan najis adalah seperti telah diterangkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaiohi wa sallam.

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ – فِي الْهِرَّةِ – : إنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَة

Artinya: Dari Abu Qotadah Radliyallaahu ‘anhu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda perihal kucing -bahwa kucing itu tidaklah najis, ia adalah termasuk hewan berkeliaran di sekitarmu. Diriwayatkan oleh Imam Empat dan dianggap shahih oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

Dari Hadits tersebut telah meberikan pengertian kepada kikta nahwa terang sekali hewan kucing bukan hewan najis, akan tetapi tidak najis bukan berarti halal dagingnya. Makan daging kucing hukumnya adalah haram.

Baca Juga :  Ijma Adalah: Hukum Islam Setelah Qur’an dan Hadits

Air Kencing Adalah Najis Mukhofafah

Selain dari Najis Anjing dan babi najis itu um  munya adalah najis mukhofafah. Kecuali najis air kencing bayi laki-laki yang belum makan makanan apa-apa selain ASI. Maka air kencing bayi laki-laki yang belum makan makanan apa-apa selain ASI itu hukumnya najis mutawasithoh.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang najisnya air kencing sebagai berikut dalam sabdanya:.

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ؛ فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya: Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Seseorang Badui datang kemudian kencing di suatu sudut masjid, maka orang-orang menghardiknya, lalu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang mereka. Ketika ia telah selesai kencing, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyuruh untuk diambilkan setimba air lalu disiramkan di atas bekas kencing itu”. Muttafaq Alaihi.

Najis Anjing
Najis Anjing

Demikian ulasan tentang; Najis Anjing : Cara Mensucikannya Sesuai Dalil Hadits Nabi. Semoga bermanfaat. Mohon utnuk diabaikan saja uraian kami ini, jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya. Wallahu A’lamu bish-showab wa billahit-taufiq.

Terimakasih kunjungannya

Silahkan klik bintang 5