√ Kisah Masuknya Pencuri ke Rumah Robi’ah al-‘Adawiyah

2 min read

Kisah Masuknya Pencuri ke Rumah Robi’ah al-‘Adawiyah
0
()

Kisah Masuknya Pencuri ke Rumah Robi’ah al-‘Adawiyah Pada kesempata ini, Duta Dakwah akan menuliskan tentang Kisah Pencuri yang tidak bisa keluar dan ini kami nukilkan dari “Syarah ‘Uqudullujain”, Kisah ini sengaja kami sampaikan buat para pembaca semoga nanti bisa mengambil pelajaran dari inti kisah ini.

Kisah Masuknya Pencuri ke Rumah Robi’ah al-‘Adawiyah

Pembahasan mengenai Kisah Pencuri masuk rumah tidak bisa keluar yang kami nukilkan dari uqudullujain ini adalah lanjutan materi kami yang ke 37, Dan untuk lebih jelasnya mengenai hal ini mari kita baca bersama uraiannya berikut ini:

Mukodimah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ

Puji dan Syukur senantiasa tetap kita panjatkan ke hadhirat Allah SWT. Sholawat dan salamnya semoga tetap tercurahkan ke haribaan Nabi Agung Muhammad s.a.w., keluarga dan shahabatnya semua, Amiin…

Saudara dan saudariku seiman yang dirahmati Allah SWT. Pada suatu hari ada seorang pencuri masuk rumah waliyatullah, begitu pencuri mau keluar dia tidak menemukan jalan keluar, tapi ketika barang curiannya diletakkan, pintu uentuk keluar terlihat jelas, lalu bagaimana kisang selengkapanya? Berikut inilah kisahnya:

Tulisan Arab Kisah Pencuri masuk rumah Robiah

فَمِنْهَا مَا حُكِيَ: أَنَّ لَصًّا دَخَلَ بَيْتَ رَابِعَةَ الْعَدَوِيَةَ، وَهِيَ نَائِمَة، فَجَمَعَ أَمْتِعَةَ الْبَيْتِ وَهَمَّ بِالْخُرُوْجِ مِنَ الْبَابِ، فَخَفِيَ عَلَيْهِ الْبَابُ، فَقَعَدَ يَنْتَظِرُ الْبَابَ، وَإِذًا هَاتِفٌ يَقُوْلُ: “ضَعْ الثِّيَابَ وَاخْرُجْ مِنَ الْبَابِ”، فَوَضَعَ الثِّيَابَ فَظَهَرَ لَهُ الْبَابُ فَعَلِمَهُ، ثُمَّ أَخَذَ الثِّيَابَ فَخَفِيَ عَلَيْهِ الْبَابُ، فَوَضَعَهَا فَظَهَرَلَهُ الْبَابُ، فَأَخَذَهَا فَخَفِيَ، وَهَكَذَا ثَلَاثَ مَرَاتٍ أَوْ أَكْثَرَ. فَنَادَاهُ الْهَاتِفُ: إِنْ كَانَتْ رَابِعَةٌ قَدْ نَامَتْ فَالْحَبِيْبُ لَا يَنَامُ، وَلَاتَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ. فَوَضَعَ الثِّيَابَ وَخَرَجَ مِنَ الْبَابِ.

Terjemahan Tulisan Arab Kisah Pencuri masuk rumah Robiah

Diantara karomah Robi’atul Adawiyah : Dikisahkan ada pencuri masuk kerumahnya dan mengumpulkan harta bendanya rumah tersebut dan hendak dibawa pergi sementara robi’ah dalam keadaan tidur, Pencuri itu bingung mau keluar mencari pintu, Maka Allah menyamarkan pintu hingga pencuri itu duduk menunggui pintu. Lalu tiba-tiba ada suara yang terdengar: Taruhlah barang curianmu dan keluarlah dari pintu. Kemudian Pencuri itu menaruh curiannya, maka terlihatlah pintu seperti semula, lalu kemudian ia mengambil lagi curiannya dan kembali pintu itu hilang, demikian sampai tiga kali. Atau bahkan lebih dari itu. Maka terdengar kembali suara Al-hatif: Jika Robi’ah tertidur maka kekasih (ALLAH) tidak pernah tertidur dan bagi-Nya tidak ngantuk juga tidak tidur. akhirnya pencuri itu menaruh curiannya dan keluar dari pintu.

Baca Juga :  √ Kisah Perempuan yang Tidak Bicara Kecuali dengan Al-Quran

Sikap Wanita Sholiha Jika Melakukan Kekhilapan

(وَكَانَتْ المَرْأَةُ الصَالِحَةُ إِذَا وَقَعَ) أَيْ حَصَلَ (مِنْهَا زَلّةٌ) أيْ خَطَأٌ فِي الْمَنْطِقِ أَوْ الْفِعْلِ (فِيْ زَوْجِهَا نَدِمَتْ) بِكَسْرِ الدَّالِ وَتَابَتْ (حَالاًّ) أيْ بِسُرْعَةٍ (وَاسْتَعْطَفَتْ) أيْ طَلَبَتْ (رِضَاهُ) أيْ الزَّوْجِ بِالتَّلَطُّفِ (وَتَبْكِى) أيْ هَذِهِ الْمَرْأَةُ (أَيَّامًا) عَدِيْدَةً (خَوْفًا مِنْ عِقَابِ اللهِ تَعَالَى) عَلَى زَلَتِهَا (وَتَقُوْلُ) أيْ تِلْكَ الْمَرْأَةُ (لِزَوْجِهَا إِذَا رَأَتْهُ مَهْمُوْمًا) أيْ مَحْزُوْنَا (إِنْ كَانَ اهْتِمَامُكَ) أيْ إِغْتِمَامُكَ (لأَمْرِ الآخِرَةِ فَطُوْبَى) أيْ الْعِيْشُ الطَّيِّبُ أَوِ الْخَيْرُ الْكَثِيْرُ (لَكَ، وَإِنْ كَانَ) اِهْتِمَامُكَ (لأَمْرِ الدُنْيَا، فَأَنَا لاَ نُكَلِّفُكَ مَالاَ تَقْدِرُ عَلَيْهِ) فَالْكَافُ مَفْعُوْلٌ أَوَّلٌ، وَمَا مَفْعُوْلٌ ثَانٍ.

Wanita sholihah jika ia melakukan kekhilafan baik dalam ucapan atau pekerjaan pada suaminya, maka ia merasa menyesal seketika itu juga dan segera mohon keridhoan suaminya dan ia menangis dalam beberapa hari karena takut akan adzab Allah SWT . Dan ia berkata kepada suaminya: Jika engkau merasa prihatin untuk perkara akhirat, maka berbahagialah engkau (yakni kehidupan yang baik atau kebaikan yang banyak). Namun jika engkau prihatin atas urusan dunia , aku tak kan meminta sesuatu yang memang tidak bisa engkau berikan. (Huruf “Kaf” adalah maf’ul awal sedangkan huruf “Ma” itu adalah maf’ul tsani.

Kisah Robi’ah binti ismail as-syamiyah

(وَ) حُكِيَ أَنَّهُ (كَانَتْ رَابِعَةُ) بِنْتُ إِسْمَاعِيْلَ (الشَّامِيَّةُ) نِسْبَةٌ إِلَى الشَّامِ (امْرَأَةُ) أَبِيْ الْحُسَيْنِ (أَحْمَدَ بْنِ أَبِيْ الحَوَارِي) مِنْ أَهْلِ دِمْشِقَ. وَكَانَ الْجُنَيْدُ يَقُوْلُ: أَحْمَدُ بْنُ أَبِيْ الْحَوَارِي الشَّامِ (تُطْعِمُهُ الطَعَامَ الطَّيِّبَ) أيْ الْمُسْتَلِذَّ (وَتُطَيِّبُهُ) أيْ تُضَمِّخُهُ بِالطَّيِّبِ (وَتَقُوْلُ لَهُ) أيْ لِلشَّيْخِ أَحْمَدَ (اذْهَبْ بِنَشَاطِكَ) أيْ بِخَفَتِكَ وَإِسْرَاعِكَ (وَقُوَّتِكَ إِلَى أَهْلِكَ) وَزَوْجَاتِكَ (وَكَانَ لَهُ امْرَأَةٌ غَيْرُهَا) أيْ رَابَعَةَ أَيْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ نِسْوَةٍ غَيْرِهَا. وَكَانَتْ رَابِعَةٌ هَذِهِ تَشَبَّهَ فِيْ أَهْلِ الشَّامِ رَابِعَةَ الْعَدَوِيَّةَ بِالْبَصْرَةِ (وَكَانَتْ) أيْ رَابِعَةُ هَذِهِ إِذَا كَانَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ (تَطَيَّبَتْ) أيْ اِسْتَعْمَلَتْ الطَّيِّبَ (وَلَبِسَتْ ثِيَابَهَا) أيْ الَّتِيْ لِلْمُبَاشَرَةِ (وَأَتَتْ إِلَى فِرَاشِهِ) أيْ الشَّيْخَ أَحْمَدَ (فَقَالَتْ: “أَلَكَ حَاجَةٌ ؟”) فِيْ نَفْسِيْ بِالْمُبَاشَرَةِ أَمْ لَا (فَإِنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ كَانَتْ مَعَهُ) إِلَى أَنْ يَرْضَى عَنْهَا (وَإِلاَّ) تَكُنْ لَهُ حَاجَةٌ (نَزَعَتْ ثِيَابَهَا) الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهَا، وَهِيَ أَفْخَرُ الثِّيَابِ، وَلَبِسَتْ ثِيَابًا أُخْرَ لِلْعِبَادَةِ (وَانْتَصَبَتْ) أيْ ثَبَتَتْ (فِيْ مُصَلاَّهَا حَتَّى تُصْبِحَ) أيْ تَدْخُلُ فِي الصِّبَاحِ.

Dikisahkan: Bahwasanya Robi’ah binti ismail as-syamiyah istri dari abil husaini Ahmad ibnu abil hawari (dari damaskus). ia menyediakan makanan buat ahmad (suaminya), ia juga meminyaki suaminya dan ia berkata pada  suaminya: pergilah dengan keperkasaanmu pada istri-istrimu yang lain, ahmad memiliki empat istri berikut Robi’ah. (Dan Robi’ah binti ismail dari negeri syam ini/istri dari Ahmad, di serupakan dengan Robi’atul Adawiyah dari bashroh). Robia’ah binti ismail ini,  ketika setelah melaksanakan sholat isya, ia memakai minyak wangi dan menggunakan pakaian terbaiknya dan mendatangi suaminya kemudian ia berkata: Apakah malam ini engkau ada hajat padaku (berjima’) ? .maka jika suaminya menginginkan maka ia bersama suaminya melayaninya, namun jika suaminya tidak sedang menginginkan jima’  maka ia melepaskan pakaian terbaiknya dan ia menggantinya dengan pakaian yang khusus dipakai ibadah dan ia masuk ruangan dimana ia beribadah diruangan itu sampai menjelang subuh.

Baca Juga :  √ Kisah Nabi Idris As Saat Berteman Dengan Malaikat Izroil
 Kisah Masuknya Pencuri ke Rumah Robi’ah al-‘Adawiyah
Kisah Masuknya Pencuri ke Rumah Robi’ah al-‘Adawiyah

Robi’ah Binti Isma’il As-Syamiyah Mengajak Nikah

(وَكَانَتْ هِيَ) أَيْ رَابِعَةُ بِنْتُ إِسْمَاعِيْلَ (دَعَتْ ابْنَ أَبِي الحَوَارِي إِلَى التَزَوُّجِ بِهَا، لأَنَّهُ) أيْ الشَّأْنَ (كَانَ لَهَا) أيْ رَابِعَةَ (زَوْجٌ قَبْلَهُ) أيْ أَحْمَدَ بْنِ أَبِيْ الْحَوَارِي (فَمَاتَ) أيْ الزَّوْجُ الْأَوَّلُ (عَنْهَا) أيْ رَابِعَةَ (وَوَرِثَتْ مِنْهُ) أيْ الزَّوْجِ (مَالاً) جَزِيْلًا (فَأَرَادَتْ) أيْ رَابِعَةُ (مِنْ ابْنِ أَبِيْ الحَوَارِي أَنْ يَتَصَدَّى) أيْ يَتَوَجُهُ (لإِنْفَاقِ ذَلِكَ المَالِ عَلَى أَهْلِ الدِيْنِ وَ الخَيْرِ فِيْ إِطْعَامٍ وَنَحْوِهِ، لأَنَّ الرَجُلَ أَوْفَقُ) أيْ أَصْلَحَ (لِذَلِكَ) أيْ الْإِنْفَاقِ (والمَرْأَةُ أَقْوَمُ) أيْ أَعْدَلُ (بِهِ) أيْ بِذَلِكَ الْإِنْفَاقِ (فَلِذَلِكَ) أيْ الْغَرْضِ الْمَذْكُوْرِ (دَعَتْهُ بِأَنْ يَتَزَوَّجَ بِهَا رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمَا) وَكَانَ أَحْمَدُ أَوَّلاً كَرَهَ التَّزَوُّجَ لَمَّا خَطَبَتْهُ رَابِعَةٌ لِمَا كَانَ فِيْهِ مِنَ الْعِبَادَةِ، وَقَالَ لَهَا: “وَاللهِ مَالِيْ هِمَّةٌ فِي النِّسَاءِ لِشُغْلِيْ بِحَالِيْ”. فَقَالَتْ: ” إِنِّيْ لَأَشْغُلُ بِحَالِيْ مِنْكَ، وَمَالِيْ شَهْوَةٌ، وَلَكِنْ وَرِثْتُ مَالًا جَزِيْلًا مِنْ زَوْجِيْ، فَأَرَدْتُ أَنْ تُنْفَقَهُ عَلَى إِخْوَانِكَ، وَأَعْرِفُ بِكَ الصَّالِحِيْنَ، فَيَكُوْنُ لِيْ طَرِيْقٌ إِلَى اللهِ تَعَالَى. فَقَالَ: “حَتَّى أَسْتَأْذِنَ أُسْتَاذِيْ”. فَرَجَعَ إِلَى أَبِيْ سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيْ. قَالَ: “وَكَانَ يَنْهَانِيْ عَنِ التَّزَوُّجِ، وَيَقُوْلُ: مَا تَزَوَّجَ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِه إِلَّا تَعَيَّرَ”. فَلَمَّا سَمِعَ أَبُوْ سُلَيْمَانَ كَلَامَهَا قَالَ لِاِبْنِ أَبِيْ الْحَوَارِي: تَزَوَّجْ بِهَا، فَإِنَّهَا وَلِيَّةٌ

Adalah seorang wanita yang bernama Robi’ah binti ismail, ia mengajak menikah pada Ibni abil hawary, karena sebelumnya robi’ah telah menikah dan ia ditinggal wafat oleh suami pertamanya dan ia mempunyai tirkah harta yang banyak, (Punya harta tinggalan suaminya yang sangata banyak) dan ia berharap dengan menikahi ibni abil hawary, suaminya nanti akan menginfakan harta tersebut kepada ahli agama dan ahli kebajikan, baik dengan jalan menjamu makan atau yang lainnya. Dan laki-laki lebih mengetahui urusan infaq sedang wanita itu lebih adil dalam urusan infaq. Maka dengan tujuan ini robi’ah mengajak abil hawari menikah. Pada awalnya Ahmad (ibnu abil hawary) menolak ajakan menikah dari robi’ah untuk mentasarufkan hartanya, dan ia berkata pada robi’ah: Demi Allah, hartaku pun cukup membuat aku kerepotan dalam mengurusnya, hingga belum terpikir untuk menikah. Robi’ah berkata: Aku serahkan urusanku padamu, hartaku merupakan syahwat, namun aku menerima harta ini karena warisan dari suamiku terdahulu, dan aku ingin menafkahkan hartaku untuk saudara-saudaramu yang sholih. Ahmad berkata: Aku akan mohon izin dulu kepada guruku. lalu ia menemui gurunya Abi sulaiman ad-darimi, dulu gurunya pernah mencegah ahmad untuk tidak menikah dulu, lalu ahmad menceritakan perihal robi’ah maka kemudian Abi sulaiman berkata kepada ahmad: Menikahlah dengan robi’ah, ia adalah seorang wali (wali perempuan).

Baca Juga :  √ Kisah Nabi Shaleh As Saat Berdakwah Kepada Kaum Tsamud

      وَأَخْبَارُ النِسَاءِ الصَالِحَاتِ فِيْ زَمَنِ السَلَفِ) أَيْ الْمُتَقَدِّمِيْنَ (مِنْ أَمْثَالِ ذَلِكَ كَثِيْرَةٌ). ةٌ)

Dan kabar serta kisah wanita-wanita sholihah dizaman dahulu sangatlah banyak

Demikian Uraian kami tentang Kisah Masuknya Pencuri ke Rumah Robi’ah al-‘Adawiyah – Semoga para pembaca dapat mengambil hikmahnya dari kisah ini. Abaikan saja uraian kami ini jika pembaca tidak sependapat.Terima kasih atas kunjungannya.

بِاللهِ التَّوْفِيْقُ وَالْهِدَايَةُ و الرِّضَا وَالْعِنَايَةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ

Terimakasih kunjungannya

Silahkan klik bintang 5